Pages

Malaikat Izrail

Minggu, 21 Oktober 2012

Adalah malaikat pencabut nyawa seluruh
makhluk dan salah satu dari empat malaikat
utama selain Jibril, Mikail, dan Israfil dalam ajaran
Islam. Nama Izrail tidak pernah disebut dalam Al
Qur'an. Walau begitu, ia selalu disebut dengan
Malak al Mawt atau Malaikat Maut yang oleh sebagian kalangan diidentikkan sebagai Izrail. Malaikat Izrail diciptakan oleh Allah SWT dalam
keadaan yang serupa dengan malaikat Mikail baik
wajahnya, ukurannya, kekuatannya, lisannya,
dan sayapnya. Semuanya tidak kurang dan tidak
lebih. Dikatakan dia berwajah empat, satu wajah di
muka, satu wajah di kepala, satu dipunggung,
dan satu lagi di telapak kakinya. Dia mengambil
nyawa para nabi dari wajah kepalanya, nyawa
orang mukmin dengan wajah mukanya, nyawa
orang kafir dengan wajah punggung, dan nyawa seluruh jin dengan wajah tapak kakinya. Dari kepala hingga kedua telapak kakinya berbulu
Za'faran, dan di setiap bulu ada satu juta muka,
di setiap satu juta muka mempunyai satu juta
mata, dan satu juta mulut dan tangan. Ia
memiliki 4.000 sayap dan 70.000 kaki, salah satu
kakinya di langit ketujuh, dan satu lagi di jembatan yang memisahkan Surga dan Neraka. Setiap mulut ada satu juta lidah, setiap lidah
boleh berbicara satu juta bahasa. Jika seluruh air
di lautan dan sungai di dunia disiramkan di atas
kepalanya, niscaya tidak setitik pun akan jatuh
melimpah. Disebutkan, ketika Allah SWT mencipta Al-Maut
(kematian) dan menyerahkan kepada malaikat
Izrail, maka berkata malaikat Izrail : "Wahai Tuhanku, apakah Al-Maut itu?". Maka Allah SWT menyingkap rahasia Al-Maut itu
dan memerintah seluruh malaikat
menyaksikannya. Setelah seluruh malaikat
menyaksikannya Al-Maut itu, maka tersungkurlah
semuanya dalam keadaan pingsan selama seribu
tahun. Setelah para malaikat sadar kembali, bertanyalah
mereka : "Ya Tuhan kami, adakah makhluk yang lebih besar dari ini?" Kemudian Allah SWT berfirman : "Akulah yang menciptakannya dan Aku-lah yang lebih Agung dari padanya. Seluruh
makhluk akan merasakan Al-Maut itu". Kemudian Allah SWT memerintahkan Izrail
mengambil Al-Maut Allah yang telah diserahkan
kepadanya. Walau bagaimanapun, Malaikat Izrail
khawatir jika tidak berdaya untuk mengambilnya,
sedangkan Al-Maut lebih agung daripadanya.
Kemudian Allah SWT memberikannya kekuatan, sehinggalah Al-Maut itu menetap di tangannya. Disebutkan pula, setelah seluruh makhluk hidup
sudah dicabut nyawanya pada hari kiamat kelak
dan yang tersisa tinggal malaikat Izrail, lalu Allah
SWT menyuruhnya untuk mencabut nyawanya
sendiri, demi melihat dahsyatnya sakarataul maut
yang sedang terjadi terhadap dirinya, beliau mengatakan "Ya Allah seandainya saya tahu ternyata pedih sekali sakaratul maut ini, tidak
akan tega saya mencabut nyawa seorang
mukmin". Malaikat Izrail diberi kemampuan yang luar biasa
oleh Allah, hingga barat dan timur dapat
dijangkau dengan mudah olehnya, seperti
seseorang yang sedang menghadap sebuah meja
makan yang dipenuhi dengan pelbagai makanan
yang siap untuk dimakan. Ia juga sanggup membolak-balikkan dunia, sebagaimana
kemampuan seseorang sanggup membolak-
balikkan uang. Sewaktu malaikat Izrail menjalankan tugasnya
mencabut nyawa makhluk-makhluk dunia, ia
akan turun ke dunia bersama-sama dengan dua
kumpulan malaikat, yaitu Malaikat Rahmat dan
Malaikat 'Azab. Sedangkan untuk mengetahui
dimana seseorang akan menemui ajalnya itu adalah tugas dari Malaikat Arham. Walau bagaimanapun, Izrail bersama Jibril, Israfil
dan Mikail pernah ditugaskan ketika Allah
menciptakan Nabi Adam AS. Izrail juga adalah
antara Malaikat yang sering turun ke bumi untuk
bertemu dengan para nabi, antaranya ialah Nabi
Ibrahim AS dan Nabi Idris AS. Sesungguhnya seorang hamba mukmin apabila
hendak meninggalkan dunia menuju akhirat,
turun kepadanya para malaikat dari langit yang
berwajah putih, seakan wajah mereka ibarat
matahari. Mereka membawa kafan dan parfum
dari surga. Mereka duduk di samping calon mayat sejauh mata memandang. Diriwayatkan, bahwa para malaikat ini mulai
mencabut nyawa dari kaki sampai ke lututnya,
kemudian diteruskan oleh para malaikat lainnya
sampai ke perut, kemudian diteruskan lagi oleh
para malaikat lainnya sampai ke kerongkongan,
kemudian datanglah Malaikat maut Alaihis Salam dan duduklah di samping kepala calon mayat
seraya berkata: "Wahai jiwa yang baik, wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan
ridha dari Allah". Maka keluarlah rohnya dengan lembut seperti air
yang menetes dari bibir tempat air. Malaikat maut
pun mengambilnya, setelah Malaikat mengambil
ruh itu, maka segera di masukkan dalam kafan
yang dari surga tersebut dan diberi parfum yang
dari surga itu. Lalu keluarlah dari ruh itu bau yang sangat wangi, seperti bau parfum yang
paling wangi di muka bumi ini. Ketika telah keluar ruhnya, maka para Malaikat
diantara langit dan bumi menshalatinya, demikian
pula semua Malaikat yang di langit. Dan
dibukakan untuknya pintu-pintu langit, semua
penjaga pintu tersebut berdoa kepada Allah agar
ruh tersebut lewat melalui pintunya. Para Malaikat membawa ruh itu naik ke langit,
dan tiap-tiap melalui rombongan Malaikat mereka
selalu bertanya : "Ruh siapa yang wangi ini???" Para Malaikat yang membawanya menjawab : "Ini ruhnya Fulan bin Fulan", sambil menyebutkan panggilan-panggilan terbaiknya
selama di dunia. Malaikat yang membawanya menyebutkan
kebaikan-kebaikannya selama di dunia, kebaikan-
kebaikannya dalam hubungan dengan Allah dan
dengan sesama manusia, bahkan dengan alam
semesta. Tatkala telah sampai di langit dunia para
Malaikat meminta dibukakan pintunya. Malaikat penjaga pintu langit membuka pintu itu,
kemudian semua Malaikat yang ada ikut
mengiringi ruh itu sampai ke langit berikutnya,
hingga berakhir di langit ke tujuh. Lalu Allah
berfirman : "Tulislah catatan amal hamba-Ku di Illiyyiin!
Tahukah kamu apakah Illiyyiin itu? (Yaitu)
kitab yang bertulis (untuk mencatat amal
orang yang baik)." (QS. Al Muthaffifiin : 19-20). Ditulislah catatan amalnya di Illiyyiin. Kemudian
dikatakan : "Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku telah berjanji kepada mereka, bahwa Aku
menciptakan mereka darinya (tanah) dan
mengembalikan mereka kepadanya serta
membangkitkan mereka darinya pula pada kali
yang lain". Roh itu-pun dikembalikan ke bumi dan ke jasadnya. Sesungguhnya seorang hamba yang kafir atau
fajir (banyak dosa), apabila hendak meninggalkan
dunia menuju akhirat, turun kepadanya para
Malaikat dari langit yang sangat keras lagi
berwajah hitam sambil membawa kain yang kasar
dari neraka. Para malaikat itu duduk disamping calon mayit sejauh mata memandang. Diriwayatkan, bahwa para malaikat ini mulai
mencabut nyawa dari kaki sampai ke lututnya,
kemudian diteruskan oleh para malaikat lainnya
sampai ke perut, kemudian diteruskan lagi oleh
para malaikat lainnya sampai ke kerongkongan,
kemudian datang Malaikat Maut Alaihis Salam dan duduk di samping kepalanya seraya berkata : "Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju
murka dan kebencian dari Allah". Roh itupun terkejut. Lalu Malaikat mencabutnya seperti
mencabut alat pemanggang yang banyak
cabangnya dari kain yang basah, sehingga
terputuslah urat-urat dan ototnya. Malaikat itu pun mengambil rohnya dan langsung
memasukkannya ke dalam kain kasar (yang dari
neraka itu). Keluar dari ruh itu bau yang sangat
busuk, seperti bau paling busuk yang pernah ada
di muka bumi ini. Para Malaikat lalu membawa roh itu naik, tiadalah
melalui rombongan Malaikat, melainkan mereka
selalu bertanya : "Roh siapa yang busuk ini?". Para Malaikat yang membawanya menjawab : "Ini rohnya Fulan bin Fulan", dengan menyebut panggilan-panggilan buruknya ketika di dunia.
Malaikat yang membawanya menyebutkan
keburukan-keburukanya selama di dunia.
Keburukan-keburukannya dalam hubungan
dengan Allah dan dengan sesama manusia,
bahkan dengan alam semesta. Semua malaikat diantara langit dan bumi
melaknatinya (mengutuknya), juga semua
malaikat yang di langit. Ditutup untuknya pintu-
pintu langit. Masing-masing penjaga pintu berdoa
kepada Allah, agar ruh itu tidak lewat melalui
pintunya. Tatkala telah sampai di langit dunia, mereka
meminta agar dibuka pintunya dan ternyata tidak
dibukakan. Kemudian Rasulullah shallallaahu
alaihi wa ala alihi wa sallam membacakan : "Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi
mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula)
mereka masuk surga, hingga unta masuk ke
lubang jarum." (QS. Al A'raaf : 40). Lantas Allah berfirman : "Tulislah catatan amalnya di sijjiin, di bumi yang paling bawah", Kemudian dikatakan : "Kembalikan hambaKu ke bumi karena Aku telah berjanji bahwa Aku
menciptakan mereka darinya (tanah) dan
mengembalikan mereka kepadanya serta
mengeluarkan mereka darinya pula pada kali
yang lain". Lalu rohnya dilempar dari langit, sehingga
terjatuh ke bumi, kemudian Rasulullah SAW
membacakan ayat : "Dan barangsiapa menyekutukan Allah,
maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu
disambar oleh burung, atau diterbangkan
angin ke tempat yang jauh." (QS. Al Hajj : 31) Menurut kisah Kabil Akbar, Malaikat Maut tidak
mengetahui kapan tiap-tiap makhluk yang akan
mati. Dikatakan olehnya Allah telah menciptakan
sebuah pohon (Sidrat al-Muntaha) di bawah 'Arsy,
yang mana jumlah daunnya sama banyak dengan
bilangan makhluk yang Allah ciptakan. Jika satu makhluk itu telah diputuskan ajalnya,
maka umurnya tinggal 40 hari dari hari yang
diputuskan. Maka jatuhlah daun itu kepada
Malaikat Maut, tahulah bahwa dia telah
diperintahkan untuk mencabut nyawa orang yang
tertulis pada daun tersebut. Sampai ada daun dari pohon yang terletak di bawah 'Arsy gugur. Kemudian akan jatuh dua titisan dari arah 'Arsy
pada daun tersebut, titisan hijau ataupun putih.
Hijau menandakan bakal si mayat akan mendapat
kecelakaan, sementara putih mengambarkan dia
akan mendapat kebahagiaan. Untuk mengetahui tempat makhluk mati, Allah
telah menciptakan Malaikat Arham yang akan
diperintahkan untuk memasuki sperma yang
berada dalam rahim ibu dengan debu bumi yang
akan diketahui dimana ia akan mati dan disitulah
kelak ia pasti akan menemui ajalnya. Disebutkan, bahwa suatu ketika Allah SWT
memerintahkan malaikat maut untuk mencabut
nyawa seorang pemuda kafir. Setelah mencabut nyawanya dan dibawa ke
langit, beliau melewati serombongan malaikat dan
mereka bertanya "Ya malaikat maut, kamu diberi tugas oleh Allah untuk mencabut nyawa
makhluknya, apakah kamu tidak pernah sesekali
merasa kasihan saat mencabut nyawa ?". Malaikat maut pun menjawab : "Iya sebenarnya aku pernah merasa iba, saat itu aku ditugaskan
untuk mencabut nyawa seorang ibu yang baru
melahirkan putranya di tengah hutan sendirian,
aku merasa iba terhadap ibu itu karena harus
berpisah dengan bayi tersebut dan
meninggalkannya sendirian di tengah hutan dan aku merasa iba terhadap nasib bayi tersebut
karena sendirian di tengah hutan". Para malaikat pun kembali bertanya : "Apakah kamu tahu siapa roh yang baru saja kamu cabut
ini? Dia adalah bayi dari ibu yang kamu ceritakan
tadi". Mendengar hal ini, malaikat maut pun sujud
kepada Allah SWT, dan berkata : "Ya Allah, hamba memohon ampun kepadaMu dan memohon
terhindar dari makar-Mu. Karena sesungguhnya
hanya Engkaulah yang maha berkehendak
apakah seseorang hamba akan Engkau jadikan
ahli surga atau ahli neraka."

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

 

My Twitter

Labels