Saya diajarkan untuk literasi tidak hanya dari satu literatur saja takut-takut saya akan mengalami sesat pikir. Dan itu yang terjadi kepada rakyat Indonesia sekarang.
Media yang tidak independen menimbulkan banyak sudut pandang, ditambah rakyat yang lebih memilih melihat sesuatu dari apa yang disukai tanpa melakukan perbandingan media.
Sejak Neo-Jurnalism menjadi trending dalam media cetak khususnya majalah, berita-berita yang adapun akhirnya dapat dipelintir sesuka hati penulis ataupun editor. Dengan berasaskan kebebasan berpendapat mereka secara tidak langsung bisa memecah belah bangsa dan negara. Lalu apa solusinya sekarang? Jujur selama media dapat menulis apa yang mereka suka kita mungkin tidak bisa mendapat solusinya, apalagi jika masih banyak orang bersumbu pendek di luar sana(no offense).
Mungkin sekarang yang kita perlukan adalah jauhi media yang berindikasi memecah belah tanpa harus menuduh, dll. Biarkan mereka mendapatkan beritanya tapi kita menutup mata akan hal itu. Setidaknya kita tidak berperan memperkaya mereka dengan masuk ke dalam pancingannya.
Oh iya satu hal lagi, orang-orang Indonesia itu masih kurang dalam hal literasi. Hal ini dibuktikan dalam survey yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016. UNESCO melakukan survey pada beberapa responden melalui internet dan didapati bahwa minat baca warga Indonesia adalah 0,1% dimana dari setiap 1000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Tidak heran warga Indonesia masih banyak yang termakan berita fiktif(hoax). Tentunya ini bukanlah suatu hal yang mengenakkan hati bukan? Ditambah lagi Indonesia mendapat peringkat 60 dari 61 negara yang dilakukan survey oleh UNESCO. Harapan saya semoga warga Indonesia memiliki minat baca yang lebih baik dari sebelumnya dan negara ini semakin maju. Banyak orang Indonesia yang masih memiliki harapan bahwa Indonesia dapat maju dan salah satunya adalah saya. Mari kita raih itu dengan merangkul satu sama lain tanpa ada ragu dan benci. Jayalah Indonesiaku!
Depok, di suatu kamar
Selasa, 4 Juli 2017M
Salasa, 10 Syawal 1438H
M. Subhi Imam Yuliastio
Inovator Nusantara
GILS 2017
Media yang tidak independen menimbulkan banyak sudut pandang, ditambah rakyat yang lebih memilih melihat sesuatu dari apa yang disukai tanpa melakukan perbandingan media.
Sejak Neo-Jurnalism menjadi trending dalam media cetak khususnya majalah, berita-berita yang adapun akhirnya dapat dipelintir sesuka hati penulis ataupun editor. Dengan berasaskan kebebasan berpendapat mereka secara tidak langsung bisa memecah belah bangsa dan negara. Lalu apa solusinya sekarang? Jujur selama media dapat menulis apa yang mereka suka kita mungkin tidak bisa mendapat solusinya, apalagi jika masih banyak orang bersumbu pendek di luar sana(no offense).
Mungkin sekarang yang kita perlukan adalah jauhi media yang berindikasi memecah belah tanpa harus menuduh, dll. Biarkan mereka mendapatkan beritanya tapi kita menutup mata akan hal itu. Setidaknya kita tidak berperan memperkaya mereka dengan masuk ke dalam pancingannya.
Oh iya satu hal lagi, orang-orang Indonesia itu masih kurang dalam hal literasi. Hal ini dibuktikan dalam survey yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016. UNESCO melakukan survey pada beberapa responden melalui internet dan didapati bahwa minat baca warga Indonesia adalah 0,1% dimana dari setiap 1000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Tidak heran warga Indonesia masih banyak yang termakan berita fiktif(hoax). Tentunya ini bukanlah suatu hal yang mengenakkan hati bukan? Ditambah lagi Indonesia mendapat peringkat 60 dari 61 negara yang dilakukan survey oleh UNESCO. Harapan saya semoga warga Indonesia memiliki minat baca yang lebih baik dari sebelumnya dan negara ini semakin maju. Banyak orang Indonesia yang masih memiliki harapan bahwa Indonesia dapat maju dan salah satunya adalah saya. Mari kita raih itu dengan merangkul satu sama lain tanpa ada ragu dan benci. Jayalah Indonesiaku!
Depok, di suatu kamar
Selasa, 4 Juli 2017M
Salasa, 10 Syawal 1438H
M. Subhi Imam Yuliastio
Inovator Nusantara
GILS 2017