Pages

Terkikisnya Common Sense di Era Modern

Sabtu, 10 Maret 2018

Pada era modern ini, perkembangan teknologi tidak bisa kita pungkiri lagi.
Anak-anak muda sekarang dari SD hingga SMA pun hampir semua memiliki alat komunikasi bernama Handphone yang juga berbasis Smartphone. Lalu sayapun juga mengikuti modernisasi yang terjadi, dari saya yang biasa mendengarkan radio di 98.7fm sekarang sudah biasa mendengarkan musik di radio internet.

Benar memang perkembangan teknologi ini kadang membuat kita melupakan beberapa hal yang termasuk Common Sense. Tapi, sebelum masuk lebih lanjut saya akan menjekaskan, apa sebenarnya Common Sense ini. Common Sense menurut Aristoteles adalah suatu kemampuan utama manusia dalam memutuskan suatu pengetahuan tentang realitas yang diketahui orang. Adapun pengertian dari Thomas Reid filsuf Skotlandia Common Sense adalah suatu kepercayaan universal terhadap penalaran pengalaman yang mengendap di dalam pemahaman sederhana.

Bingung ya? Ya saya awalnya juga bingung terhadap semua penjelasan di atas, tapi dapat disimpulkan bahwa Common Sense adalah sesuatu yang harusnya dimiliki oleh semua orang. Menurut dosen saya juga Common Sense itu adalah akal sehat, dan jika ada yang tidak memiliki kemungkinan akal mereka tidak sehat. Sangat keras bukan pengertiannya?

Di era modern ini nampaknya Common Sense lambat laun mendekati kematiannya khususnya di Indonesia. Kenapa? Karena bisa kita lihat keseharian orang-orangnya terlebih di Jakarta. Kebiasaan untuk mengantre nampaknya sulit dilakukan bahkan kebiasaan itu terbawa sampai mereka mengendarai kendaraan. Antre adalah salah satu contoh Common Sense yang sederhana, karena kita hanya perlu menunggu giliran, sudah itu saja. Namun nyatanya antre memang sulit untuk dilakukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya akhirnya kembali memakai jasa tranportasi KRL. Saya seringkali melihat beberapa orang berdesakan karena tidak sabar ingin membeli tiket ataupun masuk gate, dan akhirnya antreanpun kadang tidak dihiraukan.
Kadangkala saya terlambat masuk kampus karena matinya Common Sense orang, tapi tetap saja akal sehat saya lebih kuat daripada sekadar mengejar kereta.

Setelah akhirnya masuk ke stasiun melalui tap gate, kita menuju peron. Di sinilah tempat kedua matinya Common Sense orang Indonesia, pada saat kereta masuk ke stasiun, seringkali kita melihat gerombolan orang berdiri dekat pintu kereta, padahal sudah ada peraturan tertulis mengenai
"Dahulukan Penumpang yang Turun."
Tapi tetap saja, peraturan yang tertulis di pintu kereta tersebut hanya menjadi hiasan saja.

Ketika kita memasuki keretapun, kita dapat melihat pemandangan yang mungkin janggal. Orang tua yang rentan berdiri tapi ada remaja yang duduk, salah satu Common Sense yang seharusnya melekat dan manusia memiliki kepekaan yang tinggi akan hal itu. Beruntungnya di keretapun hal ini masih terbilang jarang, karena pasti ada orang-orang yang berani menegur dan saya bersyukur akan hal itu.

Setelah itu, buang sampah pada tempatnya. Ini adalah salah satu indikator yang mungkin kalau orang luar negeri bisa menilai kita negara yang susah maju. Kenapa? Karena peraturan seperti ini harusnya sudah melekat di pikiran orang, terlebih jika buang sampah di sungai yang masih merupakan kebiasaan orang Jakarta yang sulit ditinggalkan. Padahal sudah ada konsekuensinya, yaitu banjir. Dan ketika banjirpun mereka malah menyalahkan pemerintah yang katanya tidak becus dalam mengurus.
Common Sense membuang sampah pada tempatnya juga sangat sulit diterapkan, hanya beberapa saja yang mungkin memilikinya.

Terakhir, namun sebenarnya bukan terakhir sekali yaitu bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas segala sesuatu adalah Common Sense yang masih dimiliki oleh beberapa orang. Selain masuk ke dalam profesionalitas, bertanggung jawab adalah salah satu parameter kita layak dipekerjakan atau tidak. Bertanggung jawab atas segala kesalahan yang kita lakukan dan meminta maaf itu sudah cukup menjadi Common Sense yang melekat pada diri kita.

Pada restoran ataupun tempat makan kadang kala kita melihat masih ada piring kotor di beberapa meja, yang pasti menjadi pemandangan yang buruk jika dilihat. Nampaknya kita terlena pada statement
"Pelanggan adalah Raja."
Namun nyatanya pernyataan tersebut malah membuat kita semakin mundur dari beberapa negara lain. Di luar negeri, ketika ada makanan yang tidak dibersihkan bekasnya pasti akan mendapatkan sanksi sosial seperti ditertawakan atau semacamnya. Namun ketika kita melihat Indonesia nampaknya sudah menjadi kebiasaan untuk meninggalkan sampah di meja dan membiarkan pegawai restoran yang membersihkannya. Meski tidak tertulis harusnya setiap orang memiliki tanggung jawab untuk membersihkan sampahnya setelah makan.

Dari semua Common Sense di atas, apakah ada yang menyangkut di diri kalian meski hanya satu? Kalau ada bersyukurlah. Jika kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa kesadaran akan Common Sense orang Indonesia masih di bawah rata-rata berarti kita denial akan hal tersebut. Bagaimana Indonesia bisa maju jika pemikiran kita tertinggal hanya di hal kecil seperti ini maupun debat agama. Banyak yang berpendapat jangan membandingkan Indonesia dengan negara lain, sebetulnya dibandingkan itu sebagai sebuah standar bagaimana majunya negara lain lewat pemikirannya namun sebagian orang Indonesia masih tertinggal, jadi jangan marah kalau negara ini susah maju jika kita masih menyepelakan hal tersebut.
Jika ada saran atau kritik saya menerimanya, caci makian juga diterima kok. Terimakasih

Di Sebuah KRL Menuju Ke Bogor
Jumat, 9 Maret 2018
M. Subhi Imam Y.

Literasi Indonesia

Selasa, 04 Juli 2017

Saya diajarkan untuk literasi tidak hanya dari satu literatur saja takut-takut saya akan mengalami sesat pikir. Dan itu yang terjadi kepada rakyat Indonesia sekarang.
Media yang tidak independen menimbulkan banyak sudut pandang, ditambah rakyat yang lebih memilih melihat sesuatu dari apa yang disukai tanpa melakukan perbandingan media.
Sejak Neo-Jurnalism menjadi trending dalam media cetak khususnya majalah, berita-berita yang adapun akhirnya dapat dipelintir sesuka hati penulis ataupun editor. Dengan berasaskan kebebasan berpendapat mereka secara tidak langsung bisa memecah belah bangsa dan negara. Lalu apa solusinya sekarang? Jujur selama media dapat menulis apa yang mereka suka kita mungkin tidak bisa mendapat solusinya, apalagi jika masih banyak orang bersumbu pendek di luar sana(no offense).
Mungkin sekarang yang kita perlukan adalah jauhi media yang berindikasi memecah belah tanpa harus menuduh, dll. Biarkan mereka mendapatkan beritanya tapi kita menutup mata akan hal itu. Setidaknya kita tidak berperan memperkaya mereka dengan masuk ke dalam pancingannya.
Oh iya satu hal lagi, orang-orang Indonesia itu masih kurang dalam hal literasi. Hal ini dibuktikan dalam survey yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016. UNESCO melakukan survey pada beberapa responden melalui internet dan didapati bahwa minat baca warga Indonesia adalah 0,1% dimana dari setiap 1000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Tidak heran warga Indonesia masih banyak yang termakan berita fiktif(hoax). Tentunya ini bukanlah suatu hal yang mengenakkan hati bukan? Ditambah lagi Indonesia mendapat peringkat 60 dari 61 negara yang dilakukan survey oleh UNESCO. Harapan saya semoga warga Indonesia memiliki minat baca yang lebih baik dari sebelumnya dan negara ini semakin maju. Banyak orang Indonesia yang masih memiliki harapan bahwa Indonesia dapat maju dan salah satunya adalah saya. Mari kita raih itu dengan merangkul satu sama lain tanpa ada ragu dan benci. Jayalah Indonesiaku!

Depok, di suatu kamar
Selasa, 4 Juli 2017M
Salasa, 10 Syawal 1438H
M. Subhi Imam Yuliastio
Inovator Nusantara
GILS 2017

Doa

Sabtu, 12 September 2015

Pic: Google.co.id

Doa adalah sebuah ekspresi dari keinginan kita yang diucapkan kepada Tuhan YME, doa juga adalah sebuah ekspresi rindu terhadap orang-orang tercinta karena kita tidak bisa membahagiakan mereka dari dekat, kita cukup mendoakan agar mereka selalu senantiasa baik.

Saya sendiri biasa mengucapkan doa untuk seseorang yang spesial dalam hidup saya, dan hanya itu yang dapat saya lakukan, karena saya berjanji tidak akan mendekati dia sampai waktunya tiba.

Eh maaf jadi curhat, hahaha

Jadi hakikat doa adalah keinginan yang kita ucapkan kepada Tuhan YME, disaat kita sudah melakukan segala sesuatu tapi tidak diiringi doa itu akan menjadikan kita orang sombong, karena kita lupa akan kuasa Tuhan.

Guru SMA saya pernah berkata
"Usaha tanpa Doa itu Sombong, Doa tanpa Usaha itu Omong Kosong"

Kata-kata beliau sangat mengubah pandangan saya dan membuat pikiran saya terbuka. Kita melakukan sesuatu tanpa diiringi doa hanya akan terlihat sombong, seperti pembuat kapal Titanic yang sampai dia menyatakan

"Kapal ini tidak bisa tenggelam sekalipun Tuhan yang melakukannya"
*Kurang lebih begitu kata-kata sang pembuat kapal Titanic.

Dan kenyataan yang terjadi adalah kapal Titanic akhirnya tenggelam di Samudra Atlantik karena menabrak gunung es yang melubangi lambung kapal.
Ya itu hanya sebuah contoh besar akan usaha yang tidak diiringi doa terlebih lagi sang pembuat menyombongkan dirinya dengan mengklaim kapalnya tidak bisa tenggelam dan hanya menjadi bumerang untuknya.

Itu saja yang dapat saya sampaikan, semoga artikel ini bisa menjadi pencerahan untuk kita semua untuk lebih percaya kepada doa, karena kekuatan Tuhan itu nyata dan jangan pernah meragukan Dia ataupun menyombongkan diri dihadapan Dia.

Akhir kata Wassalamualaikum wr wb.


Sabtu, 12 September 2015
Muhamad Subhi Imam Yuliastio

Perjalanan Singkat

Jumat, 04 September 2015


Menyulam perjalanan dari awal kita memulai
Berawal dari Dunia Maya kita saling menyapa
Lama-kelamaan kita semakin akrab
Entah ada perasaan apa waktu itu yang dibenakku hanya ingin memilikimu
Setelah memilikimu ku semakin nyaman
Dan akhirnya membuatku semakin rindu dan ingin menemuimu
Yang membuatku sering ketempat ini
Lama-kelamaan kita bosan
Kesalah pahaman melanda kita
Keegoisan tak bisa terbendung lagi
Lama-kelamaan kita menjauh
Dan kita akhirnya berpisah
Menemukan jalan kita sendiri
Bojong Gede, di dalam kereta, Rabu, 5 Agustus 2015
Muhamad Subhi Imam Yuliastio

Rencana Allah

Sabtu, 18 Juli 2015

Hari ini kita bertemu lagi, meski hanya sebentar. Kita masih seperti terakhir kali bertemu, masih tertunduk malu untuk melihat satu sama lain.
Karena kita tahu kita belum mempunyai ikatan apa-apa,disisi lain kau berusaha menyembunyikan senyummu, meski akhirnya terlihat olehku.
Senyummu yang telah membuatku jatuh hati, tapi aku sadar akan status kita dan hanya bisa diam melihat sikap kita yang seperti ini.
Kita tidak tahu apa rencana Allah selanjutnya, berharap yang terbaik pada Mahakuasa.

Jumat, 17 Juli 2015
Muhamad Subhi Imam Yuliastio

Sujud

Selasa, 14 Juli 2015


Sujud...
Dalam sujud aku bersedih
Ceritakan kesedihanku kepadaMu
Berharap kesedihanku dapat berlalu

Sujud...
Dalam sujud aku bersyukur
Ceritakan nikmat yang kau berikan
Berharap nikmatMu terus mengalir

Sujud...
Dalam sujud aku memohon
Ceritakan segala dosaku kepadaMu
Berharap ampunanMu untukku

Sujud...
Dalam sujud aku bercerita
Ceritakan hidupku kepadaMu
Berharap hidupku akan terus indah

Ya Allah maafkan hambaMu yang berlumur dosa ini, dan izinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku, kepadaMu aku memohon ampun.


Selasa, 14 Juli 2015
Muhamad Subhi Imam Yuliastio

Ke(Putus-asa)an

Selasa, 16 Juni 2015

Berapa lama jiwa dan raga-ku harus tersiksa? Bukankah sudah Kau tunjukan sejak dulu rasa sakit yang menyiksa diri.
Sungguh kali ini aku tak sanggup menahan beban yang terlalu berat.
Keputus-asaan merambat jiwa ini, membuatku Ja(t)uh dan sekarang tak berdaya. Bisakah Kau tunjukan jalan-Mu lagi kepadaku, karena aku akan berusaha untuk bangkit dari keterpurukanku.

 

My Twitter

Labels